Ilmuwan Temukan Sperma Tertua di Dunia di Myanmar, Berusia 100 Juta Tahun
Satu team pakar paleontologi sudah mendapatkan apakah yang mereka yakini untuk sperma hewan paling tua di dunia yang dibekukan dalam getah pohon 100 juta tahun kemarin di krustasea kecil di Myanmar.
Mengapa Bisa Kalah Bermain Judi Slot?
Contoh fosil sperma hewan paling tua yang diketahui awalnya cuma berusia 17 juta tahun, menurut team pakar yang diperintah oleh Wang He dari Chinese Academy of Science di Nanjing.
Dikutip dari situs AFP, Kamis (17/9), sperma diketemukan di ostracod - semacam krustasea yang sudah ada semasa 500 juta tahun serta bisa diketemukan di beberapa lautan sekarang ini. Demikian keterangan dalam satu makalah yang diedarkan pada Rabu di jurnal Royal Society's Proceedings.
Mereka diketemukan di badan spesimen betina, yang memperlihatkan jika ia tentu sudah dibuahi sekejap sebelum terjebak dalam getah pohon, kata beberapa pakar.
Sperma individu dilukiskan untuk "raksasa", memiliki ukuran sampai 4,6 kali ukuran badan jantan.
"Ini sama dengan seputar 7,3 mtr. (24 kaki) pada manusia 1,7 mtr., hingga memerlukan banyak energi untuk menghasilkannya," Renate Matzke-Karasz dar Ludwig Maximilian University of Munich, salah satunya penulis studi itu, pada AFP.
Ostracod adalah spesies baru yang oleh beberapa periset dinamakan "Myanmarcypris hui".
Fosil cangkang ostracod ialah hal biasa tapi mendapatkan spesimen dengan "sisi lunak" jarang ada, kata beberapa pakar.
Semasa periode Cretaceous seputar 145 sampai 66 juta tahun lalu, ostracoda yang disebut kemungkinan hidup di perairan pesisir Myanmar sekarang ini dimana mereka terjebak dalam gumpalan getah pohon.
Spesimen itu diberikan pada periset oleh seorang kolektor Tiongkok di tahun 2017.
Makhluk kecil itu panjangnya kurang dari satu milimeter tapi beberapa periset membuat rekonstruksi 3-D dari mereka untuk memperhatikannya bertambah dekat, yang ke arah pada apakah yang dilukiskan Wang untuk "salah satunya peristiwa Eureka spesial dalam kehidupan seorang periset".
Kecuali sperma, rekonstruksi memperlihatkan pompa sperma otot yang ciri khas serta penis (semasing dua) yang dipakai ostracoda jantan untuk membuahi betina.
"Spesimen ini sangat mungkin kami untuk mengkonfirmasikan tesis kami jika sel sperma raksasa semacam itu ada 100 juta tahun lalu," kata Matzke-Karasz.
Sampai sekarang ini, teori ini dilandaskan pada penemuan di tahun 2009 mengenai organ genital besar di krustasea, yang memperlihatkan ada sperma memiliki ukuran besar.
Umumnya pria di dunia hewan termasuk juga manusia membuahkan beberapa puluh juta sel sperma kecil, tapi ostracoda tidak sama - buat mereka, ini semua mengenai kualitas dibanding jumlah.
Ada banyak teori yang sama-sama berlawanan mengenai nilai evolusi sperma raksasa.
"Contohnya, eksperimen memperlihatkan jika pada sebuah barisan, tingkat kompetisi yang tinggi antar lelaki bisa mengakibatkan kehidupan sperma semakin lama, sesaat di barisan lain, tingkat kompetisi yang rendah mengakibatkan kehidupan sperma yang semakin lama," kata Matzke-Karasz..
Periset yakin sperma raksasa ialah sinyal kesehatan yang baik dari faksi lelaki, satu karakter yang "disenangi" oleh wanita, yang alat kelaminnya berevolusi untuk menampung mereka dalam contoh "evolusi bersama-sama".
"Mengingat jika banyak ostracoda bisa bereproduksi dengan cara partenogenetik, tanpa ada memerlukan jantan, reproduksi seksual dengan sel sperma raksasa harus mempunyai keuntungan yang pasti dibanding reproduksi aseksual," kata Matzke-Karasz.
"Untuk memperlihatkan jika memakai sperma raksasa dalam reproduksi bukan pemborosan evolusi yang terancam musnah, tapi keuntungan periode panjang yang serius buat keberlangsungan hidup satu spesies, kita perlu tahu kapan mereka pertama-tama ada."
Periset sudah mempelajari amber Myanmar semasa beberapa dasawarsa, mendapatkan semua tipe harta karun beku termasuk juga katak, ular, serta ekor dinosaurus berbulu.
